Di ruang tamu rumahnya di Kelurahan Pattedong, Kecamatan Ponrang Selatan, Kabupaten Luwu, Marliani Ahmad (47) duduk bersama anak keduanya.
Wajahnya tampak tenang, meski kecemasan belum benar-benar hilang. Bagi keluarga pelaut, menunggu kabar dari laut memang bukan hal baru.
Namun ketika kabar yang datang tentang insiden di tengah perairan, rasa cemas menjadi jauh lebih berat.
Sejak insiden kapal tugboat Musaffah 2 di perairan Selat Hormuz, Timur Tengah, beredar, hari-hari Marliani terasa berbeda.
Suaminya, Kapten Miswar (50), berada di kapal itu saat insiden ledakan dilaporkan terjadi, Jumat (6/3/2026) lalu, sekira pukul 02.00 waktu setempat.
Kini, yang bisa dilakukan Marliani hanyalah menunggu. Menunggu kabar baik dari seberang lautan, sambil terus berharap suaminya kembali dengan selamat.
“Anak saya bilang, Ibu tenang dulu. Jangan termakan informasi-informasi yang belum jelas. Tunggu informasi dari kantor perusahaan dan KBRI,” kata Marliani di rumahnya, Rabu (11/3/2026).
Ia mengaku sempat syok ketika pertama kali mendengar kabar insiden kapal ditumpangi suaminya.
Informasi itu datang begitu cepat melalui media sosial dan pesan berantai.
Namun kabar yang beredar justru membuat kecemasan keluarga semakin bertambah, karena banyak informasi belum dapat dipastikan kebenarannya.
Di tengah situasi tersebut, keluarga hanya menerima satu kali panggilan dari pihak Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Muscat, Oman.
Panggilan itu datang sehari setelah kabar insiden mencuat. Selebihnya, Marliani dan keluarga hanya menunggu kabar.
Di rumahnya, Marliani berusaha tetap tegar. Anak-anak dan keluarga turut memberi kekuatan agar ia tidak larut dalam kecemasan.
“Saya berusaha dan memilih menunggu dengan sabar sambil terus berharap ada kabar baik mengenai suami dan para awak kapal lainnya,” katanya. (*)
Sc:tribuntimur